kota tanpa bioskop


Orang akan termenung, demi mendengar sebuah Kota bernama Sukabumi namun tanpa bioskop. Bagaimana tidak, sampai tahun 2000, seluruh bioskop di Kota Sukabumi gulung tikar, bangkrut, lalu punah. Terlalu esoteris memang kata ‘punah’ ini digunakan.


 

Tahun 70-80an, beberapa bioskop berdiri di Kota Sukabumi, berderet di Jl. A.Yani nama-nama bioskop seperti Indra, Capitol, Gelora, Royal, Galura, Mustika, dan Nusantara. Pengunjung dan penonton pun selalu penuh sesak. Banyak pilihan terhadap varian film apa yang akan mereka tonton: dari India hingga film-film Hollywood.


 

Kemeriahan bioskop-bioskop semakin terlihat pada hari-hari besar seperti Lebaran; baik Idul Fitri mau pun Idul Adha. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun dipaksa mengantri membeli karcis


.

Awal tahun 1990, Bioskop 21 pun hadir di Sukabumi, bertempat di Ramayana lantai 2, Jl. Tipar Gede. Kehadiran bioskop 21 ini tentu secara perlahan menggerus eksistensi beberapa bioskop kecil karena beberapa hal: pertama, 21 dianggap sebagai bioskop berkelas. Kedua, bioskop ini memiliki fasilitas gedung lebih modern dari bioskop-bioskop lainnya. Kognisi dan pikiran pun terbentuk; untuk menonton film di 21 orang harus memaksakan diri tampil sebagai kelas menengah ke atas, ini menjadi sebuah tuntutan psikologi demi menyesuaikan dengan keadaan bioskop.


 

Bioskop-bioskop lain karena telah memperlihatkan keriput, gedung-gedung tua, memutar film-film lama, dipandang sebagai bioskop-bioskop yang hanya pantas dikunjungi oleh kelas menengah ke bawah secara perlahan mulai menurun citranya. Ditambah dengan satu fakta unik, semakin sedikit penonton maka gedung-gedung bioskop hanya akan dijadikan tempat mojok dan mesum saat film diputar. Fakta ini tentu akan memberi kesan kurang bagus terhadap sebuah bioskop, sebab orang sebetulnya menyukai hal-hal mesum sebagai ranah privasi namun ketika hal itu terjadi di luar diri sendiri dan diperdengarkan di muka umum akan menentangnya, nyinyir, dan mencibir. Perlahan namun pasti, pengunjung bioskop-bioskop tua pun semakin sedikit, hanya dikunjungi oleh orang-orang yang akan berpacaran atau sengaja membawa ‘PSK’ ke dalam gedung bioskop.


 

Antara tahun 1990-1996 kelesuan perfilman di Indonesia sangat jelas. Para cineas hanya mampu menghasilkan film-film adegan ranjang, loakan, yang hanya pantas dipasang di etalase-etalase film porno. Film-film seperti ini lah pada akhirnya diputar di bioskop-bioskop tua karena biaya pembelian film-film ‘kotor’ seperti ini tidak terlalu mahal. Sementara bioskop 21 tetap mempertahankan citranya, gengsinya, dan kualitasnya.


 

Pikiran itu salah, dengan memutar film-film murahan karena memang harganya pun murah tidak serta-merta menaikkan rating sebuah bioskop, pengunjung hanya itu-itu juga, orang-orang yang memang hanya memiliki selera ‘mesum’. Para pengunjung didominasi oleh orang-orang yang haus terhadap adegan ranjang, hanya ingin melihat dada dan bokong mulus para artis. Bioskop-bioskop malah semakin sepi.


 

Serbuan VCD Player dan VCD-VCD bajakan telah menjadi sosok menakutkan dan jadi lawan berat semua bioskop. Orang pun berpikir, lebih enak membeli VCD Player dan kaset bajakan lalu menontonnya di rumah, home theatre sederhana pun bisa dibuat di rumah. Goliath-Goliath, Raksasa-raksasa bernama gedung bioskop pun jatur tersungkur dihadapan Daud-Daud Kecil bernama VCD Player. Di tahun 2000, seluruh bioskop ambruk, gulung tikar, dan tutup di Kota Sukabumi. Sampai sekarang, Sukabumi adalah sebuah Kota tanpa Bioskop.


 

Memang terlalu sederhana jika kita memiliki anggapan runtuhnya bioskop di Sukabumi karena faktor-faktor seperti di atas. Sebab, serangan kemajuan teknologi ini tidak menyebabkan bioskop-bioskop di Kota lain tutup. Di Cianjur saja, masih bertahan beberapa bioskop. Investor? Tidak juga, bioskop sekelas 21 saja bisa tumbang di Kota Sukabumi ini.


 

Lantas apa sebetulnya faktor determinan runtuhnya bioskop-bioskop di Kota Sukabumi? Pertama, kultur masyarakat Sukabumi cenderung ‘getas harupateun’, begitu cepat menyadari untuk menempatkan posisi saat kondisi memungkinkan. Sikap seperti ini akan menciptakan kondisi ‘geledug cess’, ramai dan meriah namun tidak bertahan lama. Saat VCD Player hadir, hampir semua orang memiliki pikiran sama, film akan bisa ditonton di rumah. Kedua, tempat hiburan di Kota Sukabumi lebih cocok bergenre hiburan ya hiburan, bisa digunakan untuk bercakap-cakap, joget ria, seperti tempat-tempat karaoke. Investor pun akan membuat tempat hiburan sesuai dengan selera pasar.


 

Ketiga, persaingan bioskop-bioskop di Sukabumi tercipta di tahun 80an, saat bersaing mereka benar-benar melakukan promo besar-besaran, namun saat jatuh pun, mereka jatuh bersamaan. Seperti dua petarung saling hantam di babak-babak awal namun ambruk karena keletihan di babak selanjutnya. Kebangkrutan ini berujung pada skenario klasik: sebuah gedung bioskop di Sukabumi terbakar. Ini menjadi hal menakutkan dan meneror kognisi masyarakat, ada rasa ketakutan saat menonton film tiba-tiba gedungnya terbakar, bahkan ada yang memiliki pikiran: ambruk sebenarnya ambruk.


 

Penikmat film dan bioskop di Sukabumi sebetulnya banyak. Pemerintah Kota Sukabumi, melalui Dinas Budaya dan Pariwisata harus menyediakan ruang publik saat kondisi Kota Sukabumi sama sekali tidak memiliki bioskop. Kenapa mereka tidak bisa menciptakan acara tradisional seperti layar tancap massal di lapang merdeka? Sambil membahasakan program-program mereka kepada masyarakat? Ini akan lebih baik daripada membiarkan lapang merdeka tidak karuan digunakan kegiatan yang bukan seharusnya untuk sebuah lapang. Tidak mahal membuat acara sederhana seperti ini, jika pemerintah memiliki itikad baik kepada warganya. Atau tidak pernah terpikir sama sekali?[ ]


 

 

sumber : kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>